Asmien Kurniati




Ask me anything

NAMA SAYA GONDO

Wahai saudara-saudara sekalian, perkenalkan nama saya Gondo. Cukup Gondo tok, alias hanya Gondo saja tanpa embel-embel lainnya. Nama yang pelit pemberian orang tua yang kurang kreatif. Namun lebih menyedihkan lagi kalau Anda tahu bahwa saya bukan laki-laki pun bukan banci. Saya adalah perempuan tulen yang masih perawan dan nama saya Gondo. Ya, nasib saya memang sial bin apes.

            Saya tahu bahwa saat ini Anda sedang membayangkan macam-macam rupa yang pantas jadi wajah saya. Tapi sekali lagi saya tegaskan, bahwa saya ini perempuan tulen. Jangan sekali-sekali Anda membayangkan penampakan saya seperti tampang banci Taman Kota. Biarpun sekarang sudah memasuki era emansipasi banci yang ditandai dengan mulai banyaknya banci-banci yang lebih cantik dari perempuan, namun yang namanya perempuan tulen itu tetap beda.

            Daripada Anda sekalian kebingungan dengan imajinasi Anda, maka saya akan menggambarkan tentang tampang dan penampakan saya. Sebelumnya saya ingin Anda membayangkan tampang Luna Maya, bukan Omas! Karena bisa dibilang sedikit banyak saya ini mirip dengan Mbak Luna. Bila dilihat dari belakang. Kalau dilihat dari depan, saya lebih mirip dengan mbak Deswita Maharani-nya Lenong.com.

            Anda boleh percaya boleh juga tidak percaya. Tapi please, deh, saya nggak bohong. Bapak saya yang kurang kreatif itu adalah manusia warga negara Belanda yang sangat tidak paham dengan nama Gondo yang hanya cocok untuk nama laki-laki. Oleh karena itu, bisa dibilang kalau saya ini Indo-Belanda.

Memang aneh, seharusnya orang-orang asing menambahkan nama marga setelah nama pertama. Sedang bagi orang asing yang ini (bapak saya) nama marga tidak penting lagi karena beliau sudah membuang masa lalunya, (katanya begitu). Padahal seandainya saya memiliki nama marga saya bisa sedikit berbangga sebab nama bapak saya Hans van Houten, seperti nama coklat.

            Sejak kecil saya tinggal di Kampung Kauman di Jogja. Makanya saya sangat Njawani dan begini-begini saya ini cukup feminin alias cewek bangeet. Rambut saya panjang walaupun tidak terlalu hitam. Hidung saya mancung walaupun seperti betet. Kulit saya putih walaupun banyak flek-fleknya. Dan mata saya coklat walaupun sering kali berubah jadi hijau saat lihat uang.

            Saat ini saya sedang nganggur menunggu pengumuman SPMB. Rencananya kalau saya tidak diterima di UGM, saya akan dikawinkan sama anak temannya Paklik saya. Ini idenya ibu saya alias Ny. Sri Prihatini yang kurang gaul karena masih mempraktekkan budaya Siti Nurbaya. Dalam hal ini bapak saya alias Mr. Hans Van Houten tidak ikut cawe-cawe alias tidak peduli. Sebenarnya untuk hal yang satu ini saya tidak terlalu kuatir karena saya cukup pintar. Apalagi sudah ada jaminan dari bimbel tempat saya belajar tambahan, bahwa ‘jika anda tidak di terima di UGM, maka uang selama bimbingan akan dikembalikan’.

Yang saya khawatirkan adalah nama saya yang Gondo ini. Sebab yang namanya masuk sekolah di hari pertama atau masuk ke suatu tempat baru, yang dimulai pertama kali adalah perkenalan. Bisa-bisa saya dikenang seumur hidup oleh calon teman-teman kampus saya, bahkan calon dosen-dosen saya sebagai perempuan langka dengan nama pria. Walaupun sudah empat kali saya mengalami hal yang sama sejak pertama masuk TK sampai SMA, namun tetap saja saya merasa was-was. Saya selalu terkenal di mana-mana bukan karena kepintaran atau pun kecantikan saya, tapi karena nama saya yang nggak bangeet.

Mungkin ada baiknya kalau saya menceritakan asal muasal nama Gondo yang saya emban ini untuk mengobati rasa penasaran saudara-saudara sekalian yang kian mengental. Bermula dari 17 tahun yang lalu ketika saya lahir, langit terlihat sangat cerah antara biru yang mendominasi berhias gumpalan awan nan megah. Pagi yang kian merayap ke siang pun makin indah diiringi canda ria Burung Emprit dan teriakan nyaring Burung Beo tetangga yang sedang belajar melafalkan Pancasila. Sesosok mungil bayi membawa keceriaan pada dunia yang selama ini menantikan hadirnya. Bayi yang begitu cantik dengan hidung betet dan mata duitan.

Ya, mau bagaimana lagi, si bayi ini belum juga bernama, bahkan hingga 3 bulan setelah dia hadir di dunia. Si orang tua yang kurang kreatif pun sudah mencari-cari nama mana yang pantas bagi putri pertama mereka. Para saudara hingga tetangga banyak yang memberi masukan. Semua sia-sia saja karena orang tua si bayi kurang suka.

Lalu suatu hari si Ibu pun menyerah, akhirnya dia menerima nama pemberian ibu mertuanya yang Belanda itu dengan terpaksa. Gertruida van Houten. Si Ibu terpaksa bukan karena beliau tidak suka pada namanya yang ke-belanda-belanda-an itu, tapi karena susah melafalkannya. Perlu berhari-hari bagi si Ibu untuk bisa melafalkan nama itu dengan benar.

Alkisah di suatu siang setelah si Ibu mulai pintar melafalkan nama Gertruida, si Bapak yang Belanda itu pergi ke kantor catatan sipil dengan mengendarai motor pitung ijo-nya. Sungguh nasib tak ada yang menyangka, tepat di pertigaan Bioskop Permata, ketika si Bapak lagi melaju kencang menuju Jalan Kusuma Negara, si Bapak keserempet Mobil Colt abu-abu yang banyak berisi nenek-nenek tua cerewet. Sudah luka, tertimpa caci makian pula. Hans yang malang, ditolong tukang Bakso keliling yang bernama Gondo.

“Terima kasih, Pak.” Ucap Hans yang masih berlumuran darah di lutut, sikut, serta dahi yang benjut.

“Sama-sama, Mister. Makanya hati-hati di jalan. Memangnya Mister ini mau kemana?” Tanya Gondo si Tukang Bakso.

“Saya mau ke catatan sipil bikin akte lahir untuk anak saya.”

Ooo, lha namanya siapa, Mister?”

“Hans.” Si Hans salah tangkap, padahal maksud Gondo adalah nama bayinya.

Wah, orang Londo namanya susah. Kasih nama Gondo saja, seperti nama saya.” Gondo juga ikut salah tangkap, padahal Hans itu nama orang yang ada di depannya.

“Gondo?” si Hans berpikir dengan kepala yang miring.

“Iya, Gondo. Atau Legowo juga bagus, Mister. Legowo itu nama anak saya.”

Ah, sepertinya nama Gondo lebih pantas. Apalagi saya berhutang budi sama Bapak Bakso yang baik hati ini.”

 “Oalah, ndak pa-pa, Mister. Pokok e anak yang namanya Gondo itu pasti jadi anak baik seperti saya ini. Biarpun cuma jualan bakso, tapi saya ini disayang semua orang.”

Kepolosan dan kekurang-kreatifan Hans membuat si bayi bernasib sial karena bernama Gondo. Bukan kasih sayang yang didapat si bayi, melainkan cemooh dan ejekan dari teman-temannya yang culas.

Sebenarnya kesalahan ini bermula saat si Gondo tukang Bakso bertanya nama yang maksudnya adalah nama bayinya. Lalu ditanggapi si Hans dengan namanya sendiri. Usut punya usut, saat Gondo si tukang bakso datang ke rumah saya untuk tilik bayi beberapa hari setelah kejadian itu, kuageetnya bukan main karena si bayi itu wanita alias wedhok alias woman. Si Hans yang tadinya mau complain pun urung karena hal ini terjadi karena masing-masing pihak nggak nyambung satu sama lain. Maklumlah, si Hans ini adalah tipe bule yang gampang salah paham di negeri orang. Buktinya dia nggak bertanya dulu tentang cocok atau tidaknya nama Gondo untuk bayi perempuan.Lalu, yang terkena akibatnya adalah Gondo si bayi perempuan.

Maka sampai sekarang saya benci bakso. Bukan karena tidak doyan, tapi karena kutukan Gondo si Tukang Bakso.

Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman-pengalaman saya dengan nama Gondo ini. Dulu saat sekolah saya mengadakan bakti sosial di Wonosari, saya ikut serta mendaftarkan diri sebagai panitia. Tapi, kebaikan hati saya dibalas dengan tuba. Di sana saya dikenal sebagai gadis yang ‘ayu-ayu tur ra duwe sopan santun’. Orang-orang sana menganggap saya mempermainkan ketua RT mereka, yang kebetulan namanya sama dengan saya. Biarpun berkali-kali saya mencoba menjelaskan bahwa nama saya memang Gondo, namun tak satu pun dari mereka mau percaya. Hingga pada akhirnya pada hari ke-5 Pak Guru pembimbing saya datang ke lokasi kejadian ikut angkat bicara membela saya.

            Lalu pernah juga saat saya mewakili sekolah saya mengunjungi Istana Negara di Jakarta, orang-orang mengira saya anak nakal yang kelewat iseng karena memakai name-tag gurunya. Sejak saat itu saya benci bila harus memakai name-tag atau sejenisnya. Belum lagi saat mau berangkat ke Jakarta, panitia yang mengabsen di dalam bus memarahi saya karena saya mengangkat tangan saat nama saya dipanggil. Dia kira saya anak selundupan yang numpang ke Jakarta.

            Seandainya saya ceritakan kisah pahit saya, tentunya cerita ini bukan lagi cerpen namun akan jadi novel best seller yang memuat kepahitan-kepahitan hidup seorang Gondo wanita.

            Sempat saya membayangkan bila nantinya saya menikah, penghulu saya pasti takkan bisa berhenti tertawa hingga akhirnya upacara pekawinan terpaksa ditunda. Coba saja bayangkan, ‘Saya nikahkan Gondo binti Hans van Houten dengan Tora Sudiro bin bla…bla…bla…’ bisa-bisa orang yang tidak melihat secara langsung akan mengira bahwa Indonesia sudah ikut-ikutan negara Belanda yang melegalkan perkawinan homo.

            Di rumah, saya bisa sedikit lega karena Ibu, Bapak, dan adik-adik saya tidak pernah memanggil saya dengan ‘Gondo’ atau pun ‘Mbak Gondo’. Mereka membuat julukan untuk saya di rumah. Jadi sedikit meringankan hati saya. Mereka memanggil saya, Dodo. Cara melafalkannya bukan seperti ‘O’ pada kacang ‘Koro’, melainkan seperti ‘O’ pada kata ‘Coro’ atau  kecoak. Rupanya tetap ada kelemahannya juga. Setidaknya masih lebih baik daripada panggilan saya di sekolah. Teman-teman saya yang terlalu kreatif member saya ‘nickname’ Gogon. Sebentar lagi mungkin rambut saya akan berubah seperti Gogon yang asli.

Ternyata masih lebih baik bernama Gondo daripada Legowo. Nickname yang saya emban nantinya akan sangat menyedihkan karena sama dengan ikan daur ulang yang hidup di empang sambil makan tahi orang.

Apa mau dikata. Kalaupun saya dibancaki dengan Bubur Sum-sum, untuk mengganti nama pun akan tetap sulit karena prosedur yang macam-macam. Lagipula kata guru saya, akte kelahiran itu cenderung permanen. Untuk menggantinya akan sangat mahal karena harus mengganti ijazah-ijazah lainnya juga. Maka biar bagaimanapun saya harus menerima dan bersyukur dengan nama Gondo yang hanya Gondo tok ini.

            Sepertinya dari tadi yang saya ceritakan hanya hal-hal yang menyakitkan saja. Sebenarnya ada satu hal yang cukup menyenangkan. Ini tentang satu-satunya orang yang memanggil saya dengan sabutan yang menyenangkan hati. Dialah Oma saya yang Belanda. Oma biasa memanggil saya Geertje karena setahu beliau nama saya masih tetap seperti idenya, yakni Gertruida. Wah, dunia pasti akan lebih indah kalau saya bernama Gertruida. Walaupun susah diucapkan, tapi setidaknya ini nama perempuan.

            Dalam hati saya, ada keinginan untuk bisa menerima nama ini dengan ikhlas. Keinginan agar suatu waktu nanti saya bisa berbangga diri dengan nama ini dan dengan lantang mmperkenalkan diri sebelum ditanya orang. Mungkin bila saat itu tiba, artinya saya sudah menjadi dewasa. Maka ijinkan saya tetap kekanak-kanakan dalam usia saya yang belia ini.

            Beberapa waktu yang lalu, teman saya yang satu SMA menelpon HP saya. Ini sangat jarang terjadi mengingat biaya telpon HP itu sangat mahal, jadi sebetulnya fungsi HP bagi anak-anak remaja seperti kami itu adalah alat komunikasi pesan atau gampangnya adalah sarana SMS serta sarana untuk nggaya.

            “Woy, Gon! Lagi ngapain?” sapa teman saya.

            “Alaaah… basa-basi! Ngapain telpon? di hape lagi. Dah jadi orang kaya, ya?” Tanya saya langsung ‘to the point’.

            “Hehehehenggak, kok. Aku lagi di rumah eyangku. Di sini gak da telpon. Wartel juga jauh banget, sinyal aja baru dapet setelah manjat atap.”

            “So, what? Aku kan tanya ngapain telpon? Kamu tuh bukan tipe ‘orang yang rela telpon teman cuman buat basa-basi’ makanya pasti ada maunya, kan?”

            “Wuuzzztau aja, Gon! Jadi malu. Betewe, mbok kamu kesini. Aku kesepian, nih. Di sini cuman ada eyang sama bulik-ku.”

            “Cuma kesana aja? Nggak bawa apa-apa?”

            “Ngajak temen-temen lain kek.”

            “Itu tok?”

            “Sama charger hape, dong!”

            “Huahahahahaha… ketauan maunya!! Sial, emangnya aku kurir?!”

            “Gon, benernya aku tuh sukaaa banget sama kamu. Tapi aku paling benci kalo kamu pelit gitu.”

            “Udah, nggak usah pake ngrayu-ngrayu. Nanti SMSin alamatnya. Sama siapin jamuan makanan buat satu kompi!”

            “Ok, darling!”

            Teman saya itu biasa dipanggil Lele (ikan daur ulang-red.). Tak bukan dan tak lain dialah Legowo. Ya! Legowo, anak Gondo si tukang Bakso. Biar bagaimanapun, Jogja memang sempit. Tanpa disangka tanpa diduga si Legowo ini jadi teman sekelas saya sejak kelas 1 SMA. Dan tanpa mau saya pungkiri, sebenarnya saya cukup suka padanya. Untuk urusan perasaan, saya ini cukup jujur. Walaupun saya suka sama anaknya Gondo si tukang Bakso, tapi mau bagaimanapun juga saya tetap dendam pada bapaknya. Walaupun sekarang bukan lagi tukang bakso, melainkan juragan bakso yang punya kios cabang sampai Jakarta, pokoknya yang namanya dendam ya tetap dendam!

Selama dua tahun, perasaan suka ini saya pelihara dengan baik. Entah bagaimana dengan perasaan Legowo pada saya. Yang jelas, sebenarnya saya sempat berdebar-debar saat menerima telpon darinya, bahkan sempat hampir kehabisan napas saat mendengar dia bilang suka pada saya. Walaupun hanya candaan saja, tapi saya berbunga-bunga.

            Pada hari yang ditentukan, saya bersama empat orang teman akan ke rumah nenek Legowo di Bantul. Kami harus bergegas karena kekasih hati saya sangat membutuhkan (charger hape) saya. Selain itu, saya juga sudah rindu padanya.

            “Kangmas… Dinda dataaaang…!!!”

            “Dasar wong edan! Bikin malu teriak-teriak di jalan!” Tegur Wanti teman yang sedang saya boncengkan.

            “Wan, jangan gitu, dong… Gogon kan kangen Mas Lele!” bela si Cuplis yang dari tadi mepeti motor kami.

            “Wislah, pokok e kalo mau cepet ketemu, ya ngebut aja! Dari tadi kok lelet banget!” si Wanti yang gualak bangeet mulai mengganas.

            Dari percakapan tersebut, Anda pun mengerti bahwasannya para teman telah tahu dengan jelas tentang perasaan hati saya pada Legowo (yang kemudian akan saya sebut dengan Kangmas). Masalahnya ada pada Kangmas, dia ini adalah tipikal orang yang DDR atawa punya Daya Dong Rendah! Sekian tahun saya PDKT sama dia, namun tak sekalipun dia menyadari perasaan hati saya yang menggebu padanya. Oh, Tuhan…tunjukkan-Lah jalan yang benar padanya…

            Aneh, bukannya cerita ini tadinya tentang nama saya yang Gondo itu? Kok sekarang berubah alur jadi kisah percintaan remaja cantik nan menawan, ya? Tapi, biar begitu saya mohon pada Anda sekalian untuk tidak merasa bosan dan memutuskan untuk menghentikan pembacaan Anda terhadap cerita ini. Please bangeeet!! Saya janji, cerita ini tetap keren, sekeren penampakan saya! Sumpah!

            Setelah melalui bermacam rintangan dan hambatan (lampu bangjo, orang nyebrang, becak melintang di tengah jalan, truk mogok di tengah jalan, dll.) maka sampailah kami di rumah eyangnya Kangmas yang nantinya akan jadi eyang mertua saya itu. Rumahnya termasuk rumah tua namun kokoh, karena pas gempa kemarin rumah ini terselamatkan berkat sesajen yang rutin di persembahkan di depan rumah. Maklum, calon eyang mertua saya ini kejawennya nggak ada mati-nyee… bukan hanya sesajen saja, beliau juga punya ilmu kanuragan yang sakti mandraguna. Bagaimana tidak, sekarang saja sudah berumur 99 tahun lebih 11 bulan, tapi kesehatannya mengalahkan para pejabat-pejabat negeri ini yang hobi banget keluar-masuk rumah sakit di Singapura. Konon karena kedigdayaan ilmu kanuragannya, si eyang belum pernah sakit sekalipun. Benar-benar hebat calon eyang mertua saya ini!

            “Eyang, ini teman-teman saya!” Kangmas memperkenalkan kami pada eyangnya.

            “Nggih, monggo pinarak..” Si eyang mempersilahkan kami masuk ke dalam.

            “Matur nuwun, eyang.” Balas kami.

            “Loh, ini ada londonya juga?” si eyang terkagum-kagum saat matanya tertuju pada saya. Yess! Dapat nilai tambahan untuk mendekati calon eyang mertua!

            “Ini Gondo yang dulu dikasih nama sama bapak.” Sahut Kangmas.

            “Oalah, cah ayu tenan! Wah, namanya cocok sama orangnya.” Balas eyang.

            Terus terang bukan hanya saya yang kaget pada pujian si eyang, semua anak yang saya bawa serta dalam rangka penjengukan terhadap Kangmas pun setengah mati kuagetnya! Sepertinya si eyang sudah mulai pikun.

            “Kok bisa?” Tanya saya spontan.

            “Lha iya toh, Nduk. Gondo itu kan artinya ambu atau aroma.”

            “Hah?” saya melongo.

            “Loh bener kok, Nduk! Makanya kan pantes sama kamu yang ayu dan wangi seperti kembang ini.”

            Ini adalah pertamakalinya dalam sejarah, saya tahu arti nama saya. Pertama kalinya pula saya merasa kagum dengan nama saya. Jadi begitu, saya memang pantas bernama Gondo, karena saya ini wangi… sewangi bunga surga.

            “Dulu eyang ngasih nama Gondo buat Bapaknya Legowo itu ada maksudnya loh, Nduk.” Sambung eyang.

            “Maksud?” saya masih bingung.

            “Iya. Maksudnya eyang itu, biar sampai kapanpun bapak e Legowo tetap terkenang walaupun jauh atau sudah nggak ada di dunia lagi. Karena yang namanya aroma itu kan mbekas toh cah ayu?”

            “Ooo…gitu toh, yang?”

            “Lha, iya! Selain meninggalkan nama, eyang juga kepengen keturunan-keturunan eyang itu selalu dikenang karena meninggalkan sesuatu yang baik seperti kembang meninggalkan baunya yang wangi itu.”

            Calon eyang mertua saya memang yahud! Beliau bisa membuat saya berubah pikiran tentang nama saya. Yang tadinya saya enggan menyebutkan nama, nantinya dengan bangga saya akan menyebutkan nama saya.

            Selama di rumah calon eyang mertua, kami terus menerus makan karena pasokan logistik yang melimpah ruah. Tapi, tetap saja, di depan calon eyang mertua, saya harus jaim alias jaga imej. Bukannya tadi sudah dipuji-puji? bisa-bisa beliau menarik kembali pujiannya kalau tahu sisi bladog saya saat melihat makanan.

            “Gon, cari kelapa, yuk!” ajak Kangmas.

            “Wah, manjat pohon, ya?” saya sangat antusias dengan hal-hal memanjat, maklum saya adalah tim inti atlit panjat dinding di sekolah.

            “Iya, sana cari kelapa! Kami di sini aja. Capek dan haus, nih!” Wanti sepertinya paham kalau kami memang dari tadi belum berduaan.

Ah, padahal biarpun berduaan, Kangmas tetap nggak nyadar kalau saya jatuh hati padanya. Saya sedikit berharap kalau ini akan jadi kenangan yang indah sebelum masing-masing dari kami berpisah karena kuliah di tempat yang berlainan. Saya takut jika harus membayangkan bahwa nantinya Kangmas hanya akan jadi MCP (Mantan Calon Pacar) saya. Wanti dan Joko sudah pasti keterima di UII Ekonomi, Astrid pilih ke Bandung karena pacarnya orang sana, Dian yang sedikit lebih pinter dari saya sudah diterima di STAN, lalu Kangmas sebentar lagi ke Bali selama satu tahun untuk ditanggungjawabi calon cabang baru warung bakso pak Gondo, dan yang tersisa hanya saya dan rasa cinta saya…oh, malangnya nasib Gondo si wangi ini.

Sambil bergelantungan seperti monyet, saya memetik kelapa satu per satu, kemudian menjatuhkannya ke tanah. Kangmas yang ada di bawah mengambili dan mengupas kulitnya dengan parang.

“Gon, bla…bla…bla…” Kangmas bicara dengan suara yang tak terdengar oleh telinga saya.

Hah? Apa?”

“Aku… bla…bla…bla…” masih nggak jelas.

Lalu karena penasaran saya turun dari pohon dan mendekat.

“Apa?”

“Aku suka kamu.”

Hah?”

“Aku suka kamu.”

Hah?”

Woy! Budheg, ya? AKU SUKA KAMU!” teriak Kangmas.

Saya hanya mematung. Antara kaget dan senang karena selama ini cinta saya pada Kangmas terbalas. Ini tandanya predikat MCP bagi Kangmas pun tinggal kenangan yang ada adalah predikat PT atau Pacar Tetap. Bukan untuk orang lain, tapi pribadi untuk saya sendiri. Saya bahkan langsung membayangkan betapa indahnya grafir undangan manten kami nantinya. G&L. Gondo dan Legowo. Ah, tetap saja seperti homo!

*          *          *

Berhubung halamannya sudah sangat mepet, jadi cerita ini pun harus diakhiri. Saya harap saudara-saudara sekalian tidak merasa tertipu dengan cerita saya ini. Sebab ini adalah kisah hidup saya yang bernama Gondo.

Kini sebagai mahasiswa baru, saya sudah bukan jomblo lagi. Sekarang seorang Gondo sudah punya pacar bernama Legowo. Bahkan seorang Gondo sudah tidak kekanak-kanakan lagi, karena dengan bangganya di depan semua teman kelompok OSPEK dan para pendamping, saya memperkenalkan diri.

“Selamat pagi! Nama saya Gondo.”

Jogja, 25 July 2007