MAURA…SAYA CINTA…
Sejak awal sudah saya katakan padanya, bahwa saya cinta… saya memuja… dan saya juga menghamba pada Maura. Namun, sedikit pun dia tak membalas perasaan saya yang maha dasyat ini. Tidak sedikit pun! Saya masih bisa menerima bahwa cinta saya bertepuk sebelah tangan pada Maura… cinta saya tak diindahkan… tak dianggap… pokoknya benar-benar diacuhkan! Saya masih bisa menerima. Sebab cinta saya tulus, suci, dan murni. Walau pun lama-lama saya jengah juga dengan sikap tak acuhnya.
* * *
Maura, setidaknya berpura-puralah kalau kamu peduli… kalau kamu menganggap keberadaan saya itu nyata… dan kalau kamu mengerti perasaan saya. Maura, segalanya telah saya berikan padamu tanpa memperhitungkan balasannya… oleh sebab itu, dengan perasaan lembutmu, setidaknya kamu merasa kalau saya memiliki andil dalam hidupmu… kalau saya sedikit berjasa padamu… dan kalau kamu pun membutuhkan saya untuk memenuhi maumu.
* * *
Sejak awal saya tak pernah peduli bahwa Maura enggan membalas perasaan saya. Namun, bukan berarti saya akan menyerah begitu saja. Saya adalah pengemis cinta yang pantang menyerah. Apapun akan saya lakukan demi bersatunya cinta kami. Saya sungguh-sungguh, karena itulah saya menyewa orang bayaran untuk mengenyahkan pacar Maura. Bukan karena saya tidak ingin Maura bahagia. Melainkan, karena saya tahu bahwa lelaki yang menjadi pacarnya itu tidak memberikan kebahagiaan pada Maura, lelaki itu selalu saja menebar penderitaan pada Maura. Lelaki itu adalah siluman yang ingin menghisap seluruh aura bahagia Maura. Maka pantaslah bila saya melenyapkannya. Bukannya bahagia dan senang, Maura malah menangis tak karuan. Seolah-olah selama ini Maura benar-benar menikmati penderitaan yang diciptakan oleh siluman lelaki itu. Bukannya lega dan terbebas, Maura malah mengurung diri dalam kamar tanpa memperdulikan kehadiran mentari indah di awal hari pembebasannya. Seolah-olah selama ini Maura benar-benar menikmati pasungan yang diikatkan pada tubuh mungilnya oleh siluman lelaki itu. Bodohnya Maura… namun, saya tetap cinta.
* * *
Maura, menolehlah atau setidaknya meliriklah pada saya, tunjukkanlah bahwa kamu tahu saya ada di dekatmu… tunjukkanlah bahwa kamu tahu saya nyata… dan tunjukkanlah bahwa kamu tahu saya cinta. Menolehlah atau setidaknya meliriklah pada saya.
* * *
Semalam saya mimpi buruk sekali… mimpi itu membuat saya berlari jauh-jauh karena ingin bersembunyi. Mimpi buruk yang terasa amat nyata. Atau memang semua itu bukan hanya mimpi belaka?
Hingga saya bangun tadi pagi, saya tak ingat lagi apa yang membuat saya berlari. Walau perasaan takut masih menghinggapi saya hingga kini. Perasaan was-was masih menyelimuti saya sampai sekarang. Perasaan aneh karena saya memang tak bisa mengerti mengapa.
Ketika harus bekerja pun saya masih memikirkan dan berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi dalam mimpi saya itu. Namun, tak juga ketemu. Tak juga terpecahkan. Bisa-bisa saya gila hanya karena penasaran berlebih pada mimpi buruk yang terlupa ketika bangun dari lelap.
Bahkan saat malam kembali datang, saya masih berharap untuk bisa meneruskan isi mimpi saya itu. Seandainya saja saya tahu sebabnya, pastinya akan lebih mudah bagi saya untuk mempersiapkan diri sebelum tidur dan bertemu dengan sang mimpi.
Sangat menyiksa. Saya hanya ingin tahu saja.
* * *
Hari ini, saya sangat gembira. Maura baru saja mencuci rambutnya. Dia memamerkannya pada saya sambil tersenyum-senyum manja. Senyumnya yang terlukis manis di wajah mungil itu mendadak menyapu bersih gundah dalam jiwa saya, yang kemarin sempat membuat saya gila. Saya tak mampu menggambarkan kegembiraan ini. Saya melayang, terbang karena cinta.
Hari ini, saya sangat bahagia. Maura menatap saya seolah ingin mengatakan bahwa saya nyata baginya. Dengan wangi rambutnya, Maura telah menyihir kegalauan hati saya menjadi ceria. Dari sini wangi itu benar-benar memabukkan hati saya. Saya cinta… saya memuja… dan saya juga menghamba pada Maura.
* * *
Wahai Maura… saya tak lagi peduli bila kau enggan bicara. Saya tak lagi peduli bila kau enggan berkata-kata pada saya. Sebab senyum itu bagi saya sudah lebih dari ungkapan rasa. Sebab wangi itu bagi saya sudah lebih dari penggambaran jiwa. Terima kasih, Maura, karena hari ini kau memberikan tanda bahwa kau mengakui keberadaan saya yang nyata.
* * *
Waktu demi waktu saya lalui bersama cinta saya pada Maura. Tanpa terasa, cinta itu mewabah dan kian menggerogoti seluruh aliran darah saya. Cinta yang sejak sekian lama telah menjadi candu bagi kehidupan saya. Dan cinta yang sejak sekian lama enggan berkompromi dengan akal sehat saya.
Waktu demi waktu saya lalui bersama cinta saya pada Maura. Tanpa terasa, cinta itu telah membuat saya makin menggila.
* * *
Dari luar kamar ini, saya mendengar suara riang Maura. Dia benyanyi sambil tertawa-tawa. Kian lama suara Maura kian kentara, Maura sedang menuju ke arah kamar saya. Lalu saat makin mendekat, saya mendengar Maura sedang bersenda gurau dengan kawan wanita.
Dari dalam kamar ini saya ikut bersenang ria. Karena Maura sepertinya sedang sangat ceria. Pintu kamar saya dibuka dan masuklah Maura serta kawan wanita. Pada saya, Maura memperlihatkan kawan barunya. Seorang kawan wanita yang tak kalah manis dengan Maura. Tapi tetap saja hanya Maura yang paling istimewa di mata saya.
Maura dan kawan wanita membawa banyak tas belanja. Sepertinya mereka baru saja pulang dari mal di pusat kota. Setelah menumpuk tas-tas belanja itu di atas ranjang saya, dengan gesit tangan mulus mereka mengaduk-aduk isinya. Menarik dan memamerkan baju-baju pilihan mereka, di depan saya. Maura terlihat bagai bidadari jelita.
Ketika akhirnya mereka menemukan yang paling menawan dan pantas dikenakan oleh tubuh mungil mereka, lantas bergantilah mereka. Di depan mata saya. Saya gembira.
Maura sangat mempesona dengan baju barunya. Menari-nari lalu berputar-putar manja di depan saya.
“Bagus gak? Aku jadi kelihatan lebih cantik gak? Harusnya dari dulu aku dah beli baju-baju kaya’ gini ya? Lihat, deh! Aku jadi kaya’ Agnes Monica, kan?” Tanya Maura memberondong.
“Iya… iya… bagus, kok! Tapi, kalo dibandingin ma Agnes Monica… masih jauh, deh!” Kawan wanita membalas sebelum saya sempat membuka mulut untuk bicara.
Sepertinya kawan wanita mulai menyebalkan pada saya.
“Ah… iya, deh… kaya’nya emang Agnes Monica masih kalah cantik kalo dibanding aku.”
Saya sangat setuju dengan Maura. Sebab dia memang terlihat sangat istimewa. Agnes atau siapa saja jelas tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Maura.
“Whatever! Coba minggir! aku juga mo liatin baju baruku, nih.” Kawan wanita menggeser Maura dari hadapan saya.
Saya memalingkan muka. Hanya Maura yang akan saya pandangi dan saya kagumi kecantikannya. Bagi saya, yang lain itu tak ada artinya.
“Wah, bagus banget, ya! Aku seneng, deh… sama baju ini!” kawan wanita memuji dirinya.
“Loh, itu kan baju aku! Kok dipake, sih?!”
“Ah… aku kan cuma nyobain aja. Maura, kamu jangan pelit gitu, dong!”
“Tapi, kan aku belum sempat make, mosok dah dipake duluan, sih! Itu kan lancang namanya!”
“Sorry… sorry… deh. Nih, tak lepas. By the way, aku baru sadar kalo kamu ganti model rambut. Kaya’nya gak cocok, deh… sama muka kamu. Soalnya mata kamu tuh gede. Nah, harusnya jangan pake harajuku style gitu!”
Kesabaran saya sudah habis! Tak ada seorang pun yang saya ijinkan mencela penampilan Maura yang sempurna. Tadinya saya masih ingin menghargai kawan wanita demi Maura. Tapi, kawan wanita sudah keterlaluan menyakiti hati Maura. Dan saya tak bisa tinggal diam saja.
Untuk itu saya mengambil gunting yang dari tadi tergeletak di meja rias Maura. Dan dengan kasar saya menarik rambut panjang si kawan wanita. Lalu dengan gunting tadi kepala kawan wanita saya gunduli… saya gunduli… saya gunduli. Hingga terlihat pitak-pitak di kepalanya. Saya menggundulinya seperti para polisi menggunduli kepala para tahanan sel. Mode itu sangat cocok bagi kawan wanita. Mode gundul yang tak rata.
“Aaarrkhh… tolong…! Maura…!” jerit kawan wanita.
Maura diam saja. Dari tadi dia benar-benar terluka. Oleh ucapan kejam si kawan wanita.
Begitu penggundulan itu selesai, kawan wanita lanngsung berlari tunggang langgang keluar dari kamar dan rumah Maura. Lalu saya tertawa. Saya bangga dan puas karena telah memberi hukuman yang pas bagi mulut tajam si kawan wanita.
* * *
Semalam, lagi-lagi saya mimpi buruk sekali… mimpi itu lagi-lagi membuat saya berlari jauh-jauh karena ingin bersembunyi. Mimpi buruk yang lagi-lagi terasa amat nyata. Atau memang semua itu bukan hanya mimpi belaka?
Hingga saya bangun tadi pagi, lagi-lagi saya tak ingat apa yang membuat saya berlari. Walau perasaan takut masih menghinggapi saya hingga kini. Perasaan was-was masih menyelimuti saya sampai sekarang. Perasaan aneh karena semburat ingatan akan mimpi itu muncul seketika saat saya hendak mengaca.
Ketika pada akhirnya saya mengaca, saya teringat oleh sebersit mimpi semalam. Hanya setitik petunjuk. Hanya tentang saya yang dikejar dan sosok yang mengejar saya Namun, sosok itulah yang membuat saya penasaran. Sebab dia begitu mirip dengan saya. Rambutnya… tinggi badannya… bentuk tubuhnya. Bisa-bisa saya gila hanya karena penasaran berlebih pada mimpi buruk yang terlupa ketika bangun dari lelap.
Siapa sosok yang begitu miripnya dengan saya itu? Mengapa dia harus mengejar saya? Lagi-lagi sangat menyiksa. Saya hanya ingin tahu saja.
* * *
Hari ini saya sangat gembira. Karena Maura tak lagi merasa terluka. Maura sudah bisa tertawa-tawa manja. Tawanya yang renyah itu mendadak menyapu bersih gundah dalam jiwa saya, yang kemarin sempat membuat saya gila. Saya tak mampu menggambarkan kegembiraan ini. Saya melayang, terbang karena cinta.
Hari ini saya sangat bahagia. Maura menatap saya seolah ingin mengatakan bahwa dia mengerti perasaan saya. Dengan wajah cantiknya, Maura telah menyihir kegalauan hati saya menjadi ceria. Kecantikannya itu benar-benar memabukkan hati saya. Saya cinta… saya memuja… dan saya juga menghamba pada Maura.
* * *
Di depan saya, Maura menyapu wajah ayunya dengan bedak, lalu melukis bibirnya dengan gincu merah muda. Maura benar-benar sempurna.
Namun, saat saya menyapanya, memujinya, dan mengungkapkan rasa cinta saya, Maura hanya menirukannya tanpa memperdulikan perasaan saya. Seolah-olah, Maura mengejek saya, mencibir saya, tepat di depan saya. Maura menyakiti hati saya.
Kata demi kata yang saya ucapkan, ditirukannya dengan sempurna, namun tanpa suara. Maura mengejek saya, mencibir saya, tepat di depan saya. Maura menyakiti hati saya. Padahal tadinya saya sangat bangga padanya. Saya sangat bahagia melihat tatapan matanya pada saya. Dan kini dia malah membuat saya terluka.
Kali ini saat saya mencoba menyentuhnya, dia pun ikut-ikutan menyentuh saya. Seolah-olah Maura sedang mengasihani saya. Itu membuat saya makin terluka.
Mendadak pintu kamar saya dibuka.
“Maura, berhentilah mengaca, nak! Ingat, pagi ini kita ada janji dengan psikiater.” Suara ibu terdengar penuh cinta.
Mendadak pula saya tersadar. Bahwa selama ini saya hanya mengaca.
Jogja, 17 July 2007