Menanti Senja
Saya sedang berlari saat melihatnya terbang di atas awan. Dia terlihat indah, mempesona, bagaikan lukisan. Sejenak saya tertegun mengagumi kecantikan sayap-sayapnya yang bersatu bagaikan sepasang lengan. Sungguh menawan.
Lalu tiap kali saya berlari di sore hari, saya selalu menantinya. Di tempat yang sama dan di waktu yang sama pula. Saya bahagia, berdebar-debar seperti sedang menanti kekasih saya datang di sabtu petang untuk membawa saya jalan-jalan ataupun sekedar memadu cinta.
Seolah kami berdua memiliki waktu yang tak berselang. Dia pun tahu bahwa saya pasti datang untuk menemuinya saat sore menjelang. Dan di sanalah dia menanti saya datang. Untuk melewati sore bersama dengan riang. Kami bercengkrama, bercerita tentang pagi yang datang dan siang yang berlenggang. Saya senang dan dia pun girang.
Tiap pagi yang saya lewati, selalu penuh dengan angan. Mengkhayalkan keberadaan kami berdua yang bagaikan orang pacaran. Saling berpegangan tangan, saling memberi ciuman, lalu pada akhirnya kami pun saling memenuhi ranjang sambil berpelukan.
Terus saya lewati pagi hingga siang dengan menanti dan bermimpi. Waktu terasa lama bila begini. Saya ingin segera bertemu dengannya di tepi kali. Hingga akhirnya saya pun mulai berlari dari pagi hingga siang lalu dari siang hingga sore hari. Agar tak lagi terasa waktu begitu panjang untuk dititi.
“Hai, saya datang lagi.” Sapa saya padanya.
“Ya, aku melihatmu dari kejauhan. Untuk itulah aku ada untuk menemuimu.”
“Hari ini kau terlihat mempesona.”
“Kau juga. Terlihat cantik bagai bidadari.”
“Kau terlalu memuji saya.”
“Tidak. Itu nyata.”
Begitulah percakapan kami, berisi tentang pujian satu sama lain. Seperti pasangan kekasih baru yang saling memberi pujian dan ungkapan tentang kebaikan pasangan. Tak mengapa, sebab bagaimanapun juga saya suka pujian. Tak mengapa, sebab dia layak mendapat pujian atas keindahan.
Lalu saat malam merayap datang, saya terpaksa harus berpisah dengan sang pujaan hati. Biar waktu bergulir pergi dan saya kembali dalam sepi. Biar kembali saya lewati pagi hingga siang dengan menanti.
Seperti biasa yang akhirnya menjadi kebiasaan, saya menjalani hari dengan menanti kehadiran sang sore yang perlahan merayap. Hari ini langit dipenuhi awan yang bergumpal bak asap tukang sate yang sengaja dibuat agar dagangannya habis sebelum gelap. Saya kecewa sembari tetap berharap. Kali ini doa saya sangat mantap. Semoga awan bergumpal itu segera lenyap.
Doa saya tak di dengar oleh-Nya. Saya pun kecewa dibuatnya. Sampai tengah siang pun langit masih dipenuhi awan yang seolah berkumpul di sana dengan sengaja. Tak mengapa. Bagaimanapun juga saya akan tetap menanti hadirnya.
Kemudian di ujung siang yang mendung, saya pun memantinya dengan mondar-mandir. Dengan penuh harap agar dia segera hadir. Namun saat sore menjelang, yang hadir malah hujan besar yang membawa banjir. Saya tak peduli sekalipun tubuh saya terkoyak diterjang banjir dari pinggir, saya enggan menyingkir.
Wahai pencipta alam semesta! Betapa tega Kau jauhkan saya darinya!
Malam menjelang. Kekasih saya tak datang. Dan hujan pun menyisakan banjir bandang.
Hari berikutnya yang saya nantikan masih juga tak kunjung datang, hanya mendung yang terus bergelantungan dari pagi hingga petang.
Terus menerus kehadirannya tersingkir oleh sang mendung yang seolah sengaja mengganggu. Saya terus menunggu hingga satu minggu… dua minggu… berminggu-minggu… saya sangat rindu. Sampai-sampai saya lupa waktu.
Kali ini saya tak hanya diam dan menanti. Seluruh waktu saya isi dengan mencari. Saya ingin tahu ke mana dia pergi. Saya ingin tahu apakah saya dibenci. Saya ingin tahu apakah saya dikhianati. Demi sejuta pertanyaan itulah saya mencari. Tak mengapa walau nanti saya hanya akan patah hati.
Mohon jangan siksa saya dengan beribu tanya di dada. Saya tak lagi kuasa menahan gejolak dalam jiwa. Saya sangat merana.
Di suatu tempat ribuan kilo jauhnya dari sungai tempat pertemuan kami, saya mendapati tanda-tanda kehadirannya. Sedikit demi sedikit debaran di dada saya makin cepat terasa. Saya merasa inilah saatnya bagi saya untuk menyampaikan ribuan tanya saya.
Maka setelah sekian ribu kilometer saya tempuh dalam puluhan minggu di sinilah saya bertemu.
“Sayangku, mengapa kau tinggalkan saya?”
“Aku tak pernah meninggalkanmu, Cinta.”
“Lalu mengapa kau tak pernah ada dalam puluhan minggu penantian saya?”
“Aku selalu ada.”
“Tidak. Kau tak pernah ada.”
“Ya. Aku selalu ada walau terhalang mendung kelabu itu.”
“Benarkah begitu?”
“Ya, aku pun selalu melihatmu dalam kesedihan yang membawaku turut merasakan luka.”
“Sayangku. Jangan lagi tinggalkan aku.”
“Tak akan pernah sebab aku tak mampu.”
“Jika begitu, bersatulah denganku.”
“Itupun tak mungkin bagiku.”
“Mengapa?”
“Sebab kita tak ditakdirkan untuk bersatu. Kita hanya ditakdirkan untuk beriring.”
“Saya tak peduli. Di sini di gurun pasir ini, saya ingin bersatu denganmu. Maka bersatulah denganku.”
“Tidak mungkin bagiku. Sebab aku adalah senja, yang kumiliki hanyalah nama dan warna. Sedangkan kau memiliki segalanya, nama, warna, jiwa, maupun raga yang berwujud sempurna.”
“Maka akan saya tinggalkan semuanya demi bersatu denganmu.”
“Jangan. Bersatu denganku hanya akan membuatmu terbakar menjadi abu.”
“Mencintaimu pun telah membakar hati dan jiwa saya. Maka bakarlah saya dalam satu.”
“Masih juga tak mungkin bagi kita untuk bersatu. Sebab aku adalah senja dan kau puteri raja. Cinta di antara kita hanya sebuah cerita. Maka terbiasalah dengannya.”
Lalu sang senja pun mulai mengacuhkan saya. Walau tiap hari saya selalu hadir menemuinya, namun tak sekalipun dia menoleh pada saya.
“Saya mohon, jangan acuhkan saya. Saya tak akan lagi memaksa. Tapi biarkan saya tetap mencinta.”
“Jika hanya cinta, maka aku pun akan bahagia. Dengan begitu kan kuberikan cintaku untukmu pula.”
Hingga tahun demi tahun berlalu, saya masih terus menanti sang senja yang datang bersama cintanya. Tak mengapa bila raga kami tak pernah bersatu, setidaknya kami memiliki cinta yang sama. Tak mengapa bila kami hanya berjumpa di ujung siang, setidaknya kami berdua merasakan bahagia yang sama. Tak mengapa bila nyawa saya tak seabadi nyawanya, setidaknya di ujung hidup saya nanti dia akan membawa saya. Menjadikan saya sebagai penyandingnya, mengangkat saya menjadi ratu cahaya baginya. Dengan begitu semua penantian saya pada sang senja tak akan jadi sia-sia.
Jogja, 28 October 2007