Mereka di Utara
Bapak-bapak itu berboncengan dari arah utara. Terlihat mereka adalah pengungsi merapi. Yang depan masih muda, mungkin 40 tahunan, sedang yang dibonceng terlihat lebih tua karena uban dan kerutan di wajahnya. Kalau saya menerka mungkin dia ayah atau ayah mertua si bapak 40 tahunan itu.
Di belakangnya ada satu lagi sepeda motor yang mengikuti mereka. Seorang wanita berjilbab yang umurnya mungkin akhir 30 tahun.
Kedua motor itu melaju pagi-pagi sekali, pelan-pelan menuju selatan. Di bagian depan si bapak dan ibu itu ada tumpukan tas yang tidak rapi. Saya langsung bisa menerka. Mereka pulang untuk mengambil keperluan yang tertinggal.
Masing-masing membawa 2 tas yang ditumpuk di tengah-tengah antara setang motor dan jok. Mereka membawanya tanpa persiapan. Salah satu tas tidak tertutup sempurna karena isinya terlalu penuh dan dimasukkan dengan paksa. Dari sisa resleting yang tetap terbuka itu saya melihat pakaian-pakaian yang tidak dilipat. Mereka memasukkan apa saja yang kiranya dibutuhkan.
Si ibu membawa tas yang lebih kecil. Ransel anak sekolahan. Mungkin milik anaknya.
Lalu di lampu merah perempatan monjali, mereka saling bicara.
“Mau jaket e antok wis digowo bu?” Tanya si bapak muda pada si ibu yang motornya tepat di samping bapak.
“Wis pak. Wis kabeh” balas ibu.
Mungkin antok itu anak mereka. Saya bisa membayangkan saat kritis dua malam yang lalu mereka tergesa-gesa harus turun ke selatan karena merapi bertambah ganas. Tapi dari pancaran mata mereka terlihat jelas, mereka sangat kuat. Bahkan tanpa melihat pun saya tahu pasti bahwa mereka semua yang di utara sana adalah orang-orang yang kuat.
Dulu sekali saat saya masih muda dan bebas, saya adalah bagian dari organisasi pecinta alam. Hampir seminggu sekali saya naik gunung. Entah itu merbabu atau merapi. Jadi saya hapal betul lokasi di sana, orang-orang di sana, dan kehidupan mereka.
Kebanyakan di sana adalah manula. Mereka bekerja sebagai petani atau peternak. Tiap pagi buta mereka naik lereng untuk bertani atau mencari makan ternak. Umur mereka tidak muda. Tapi masih sangat kuat mengangkut tumpukan rumput liar yang dibabatnya di atas untuk di bawa turun dan disajikan pada ternak mereka.
Itu yang saya kagumi. Mereka kuat. Dan saya sangat yakin, bencana merapi ini tidak akan melunturkan kehebatan mereka.
Maaf saya gak kenal
siapapun anda tapi saya tidak kenal. saya hanya memaklumi karena anda-anda meng-add facebook saya karena tadinya saya jualan. tapi setelah vakum jualan di facebook mulailah saya sadari banyak sekali orang yang saya sendiri tidak kenal.
kalau ada waktu nanti saya akan delete. maaf sebelumnya tapi saya bukan abegeh yang lomba banyak-banyakan friend di fb..
untungnya saya ini orang sibuk. (pdhl sy ada wkt utk nulis ini) okelah saya ini orang yang sok sibuk jadi suka nunda-nunda sesuatu yang ingin saya kerjakan. begitulah.
okelah kalau begitu, seandainya anda terdelete dari fb saya, itu karena sengaja, no harm done yah!
Kesusahan Ini Sangat Menyusahkan!
Dari kecil saya sudah terbiasa hidup susah. Jadi kalau sekarang saya hidup susah, tidak akan susah bagi saya untuk menjalaninya. Tidak! Bukan berarti saya menikmati kesusahan saya. Bukan berarti saya merasa wajar untuk hidup susah. Saya tetap berusaha bagaimanapun caranya agar bisa terlepas dari kesusahan.
Dulu kami hidup menumpang di rumah simbah. Mama saya bekerja mati-matian agar anaknya bisa makan dan sekolah. Pernah ada masanya mama jadi orang kaya yang mampu sedikit bermewah. Bisa membeli mobil bekas dan menyewa rumah. Tapi roda selalu berputar dan kembali kami harus hidup bersusah. Tak mengapa karena ini hanya sementara, nanti pasti saya bisa hidup mewah.
Saat benar-benar susah dulu, mama saya pernah menangis karena tak ada lagi uang untuk makan esok hari. Semua habis untuk membayar pangobatan bapak saya yang sakit tapi tak sembuh juga. Uang suambangan dari lelayu juga tak bisa menutup hutang di rumah sakit. Hutang yang bernilai jutaan padahal saat itu tahun 80an dengan 100ribu kita bisa membeli sepeda motor. Tapi sesalu ada berkah. Saat susah dan sedih selalu ada malaikat berwajah manusia datang membantu kami. Membantu dengan do’a pun dengan materi.
Saya bukan anak yang baik. Karena itu sejak kecil saya sering mendapatkan hukuman atas kenakalan saya. Kadang saya dipukul, atau dikurung di kamar mandi. Tak mengapa karena saya nakal wajar mendapat hukuman!
Saat ibu saya menikah lagi dengan seorang perjaka tua pun bukan berarti kami tak lagi susah. Karena si pria suka minta uang untuk kesenangannya. Suka memukul saya bila saya tak patuh. Dan saya pikir mungkin begini rasanya punya ayah. Hampir tiap hari dipukul bila bersalah. Sebab saya memang selalu bersalah.
Pada perceraian mama saya dengan si pria, saya merasa sangat bahagia. Cukup satu orang saja yang memukul saya. Jangan lebih. Saya tak mampu jika menahan dua.
Lalu hidup saya pun tak kunjung lepas dari susah. Sepertinya kesusahan selalu melekat pada saya. Ya ya…saya memang mudah mengeluh. Tentunya banyak di antara anda yang pernah atau tengah merasa kesusahan yang jauh lebih parah dari punya saya. Anggaplah keluh kesah saya ini sebagai kisah. Untuk cerita sekedar penghibur bahwa ada orang yang demikian manjanya menghadapi susah dengan tak pasrah.
Benar adanya kalau saya bilang kuliah saya berantakan karena uang. Saya harus drop out lalu berusaha menabung untuk kuliah saya yang lain. Semua hanya karena secarik kertas yang nantinya akan saya pamerkan pada anak saya. Bukan untuk saya mencari kerja. Dari awal planning saya adalah membuat pekerjaan. Itu satu-satunya cara untuk bisa kaya. Bersusah-susah dahulu. Bergagal-gagal dahulu. Lalu nantinya saya akan memetik buah dari kerja keras saya. Atau jika bukan saya maka anak-anak saya yang harus menikmatinya.
Beginilah yang bisa saya bagikan untuk sekedar acuan bagi anda semua. Acuan bahwa sedikit berkeluh kesah itu tak apa, asal tidak berlebihan dan mendatangkan dengki. Saya hanya bercurah isi hati tentang kesusahan saya yang menyusahkan ini. Tak mengapa jika sejak awal anda sudah jengah. Setidaknya anda membacanya dari awal hingga akhir. Ya. Lihat anda bahkan masih membacanya sampai titik akhir. Mari kita tertawa.
Jogja, 17 May 2010
11th Kenal Internet tp tdk tau COPYRIGHT
Hari ini saya memergoki toko online lain yg nyolong atau njiplak poto hasil karya sy. Saat sy tegur si pemilik toko tdk mau ngaku, dia mlh membalas teguran sy dg email ini:
“Terimakasih mbak.. atas kritikannya.
Maaf kalo mbak merasa foto tersebut karya mbak, tapi foto tersebut
saya ambil via HP saya dan bila mbak keberatan kami akan meremove
nya..
dan kami akan mengganti dengan yang lain,
Bukan kami TIDAK BERETIKA, tapi karna hasil jepretan kamera sendiri,
kami merasa tidak masalah. kalau mbak punya lisensi utk foto tersebut,
silahkan.”
Poto yg sy maksud itu poto teh dagangan sy yg kebetulan dia jg jual barang yg sama. Poto itu sdh sy edit dg photoshop dan corel photo paint jd aneh bgt kl dia bilang itu poto jepretan hp..hebat bgt hpnya ada photoshop plus corel photo paint-nya.
Makanya sy bls dia dg email sy:
“Mas sy bs membuktikan kl foto teh dlm kemasan anda itu sy jepret sendiri dan sy edit sendiri. Tiap poto itu ada history propertiesnya. Dan poto teh yg ada di POJOK kemasan anda itu jelas2 foto yg saya buat. Sy bisa MEMBUKTIKAN itu.
Seharusnya anda merasa malu karena anda menjiplak tanpa ijin dan mengelak..
Bukankah anda ini lelaki sarjana lagi. Seharusnya anda bikin sendiri foto dg kreativitas anda jangan asal comot. Itu yg sy sebut tidak beretiket. Tiap foto dan tulisan yg diambil dr web harus ada sadurannya. Kalau pernah sekolah pasti diajari ttg hal ini. Saya yg sekolahnya tdk tinggi saja tau.”
Dan sy ulang lg dg email lain karena dia tdk membalas.
“Jadi anda bilang kl foto ini anda yg jepret pakai hp? Waah hebat sekali jepretan hp anda…otomatis teredit sendiri yah? Ck ck ck..malu dong mas kok sarjana bo’ong gt..kl kemasan anda tdk segera diganti fotonya saya akan laporkan ke pihak berwenang. Ini ada sourcenya mas. Anak sd jg tau loh mas ttg hak cipta.
Sebelum melakukan bisnis online sebaiknya mas belajar dasar2 copy right dulu..
Mohon dicatat baik2, sy melampirkan foto karya sy bukan utk sy berikan pd anda secara suka rela. Ini hanya CONTOH dan TIDAK untuk digunakan utk perusahaan anda.”
(Sy turut melampirkan poto yg sy maksudkan)
Trus akhirnya email sy dibalas begini:
“malam mbak… terimkasih atas kuliahnya.. utk selanjutnya kami sudh
tidak memasang foto mbak dikemasan kami, karna itu kebetulan foto
lama, mungkin bisa dengan email ini kami haturkan maaf kami. saya
memang lebih bodoh dari anak sd mbak, karna baru 11 tahun berurusan
dengan internet dan jaringan komputer. Untuk bisnis online, mbak dan
saya punya pasar masing2, jgn takut mbak.. saya gak ambil pasar mbak..
semoga bisnis jenengan lancar ya..”
Heran kan? Siapa yg mempermasalahkan pasar? Katanya sudah berkenalan sama internet 11th tp kok g tau etika COPYRIGHT?? Mosok bikin poto sendiri g bisa..jd curiga jgn2 dia kuliahnya cm byr orang doang. Makanya g paham HAK CIPTA…niy orang paling tipe org yg kl nonton pilm di bioskop sampil bawa handycam yak!!
Bikin ktawa deh..soalnya ngaku 11th urusan ma internet tp masi dg gampangnya make poto org tnp ijin..mana potonya ambil di web toko sy lg.
Kalau mau tau yah, si org ini laki2 sarjana teknik loh..mosok nyolong poto simpel bikinan emak²? Otaknya cetek bgt..pasti dia sarjana goreng alias sarjana palsu!!!
TOKO ASLI JOGJA →
Mau kurus tp gak mau pake obat2 kimia?????
Nah..pake cara tradisional aja..?
Ini dia cara dietnya putri2 kraton sehabis melahirkan..
Konsumsi TEH JATI CINA..
? Fokusnya ngecilin perut buncit loh..yuuukk buruan dicobain..Harga gak mahal tp khasiat tok cer!!!
? Aman utk orang lanjut usia karena membantu menstabilkan metabolisme dlm tubuh.
? Aman utk ibu menyusui karena dari bahan alami tanpa proses kimiawi.
kunjungi: http://aslijogja.multiply.com/journal/item/25/
^Matur^o^Nuwun^
Juwitaku Sendiri
Tertawalah selagi kau bisa…
menangislah selagi kau mampu…
sebab setelah kau lewati masa sendirimu,
kan kuikat kau dengan tali kasihku…
kan kujadikan kau bonekaku…
hingga tak ada lagi aku, kau, dia.
Hanya kita dan kami.
Melangkahlah selagi kau kuat…
menarilah selagi kau bergairah…
sebab setelah kau lewati masa sendirimu,
kan kuborgol kau dengan rantai emasku…
kan kujadikan kau pajanganku…
hingga kita hanya ada kita.
Dalam satu yang satu.
Juwitaku sendiri berlari dengan langkah manisnya…
menerjang hujan di musim kemarau…
mengejar kekasihmu yang aku.
Betapa cintamu membuatku tak lagi rela melepasmu.
Juwitaku percayalah,
bahwa tanpamu aku tak mampu terbang…
Sebab kaulah sayapku, kaulah kekuatanku…
Bahwa tanpamu aku tak mampu berlayar…
Sebab kaulah perahuku, kaulah anginku…
Maka Juwitaku sendiri…
Menanti kekasihmu yang aku…
Agar kita satu dalam satu…
Agar kita mampu terbang dan berlayar…
Dalam satu waktu, dalam kita.
(Mandala 1 Jogja, 17 November 2007)
Dia Hanya Masturbasi Saja…
Langit kemarin malam terlihat indah… penuh dengan pernak-pernik bintang yang megah… kini yang Julia rasakan dalam dada adalah gundah… dia merasa dalam hatinya ada yang salah… walau pada akhirnya dia hanya bisa pasrah…
Ketika sedang sendirian, Julia mulai berkhayal macam-macam… Mengkhayalkan sosok idamannya… Menghkhayalkan kehangatan tubuh lelaki perkasanya… Kemudian Julia tak kuasa lagi menahan diri untuk tidak menggesekkan kemaluannya pada bantal… Julia sedang gila cinta dan dimabuk birahi…
Kembali dia mengingat-ingat malam itu… Ketika lelakinya memberikan senyuman padanya… ketika lelakinya mengucapkan sapaan pertamanya… ketika lelakinya membalas emailnya… Julia tergetar dan terisak antara haru dan bahagia… padahal dalam kasus ini seharusnya dia bahagia seperti perempuan-perempuan lainnya yang akan ketawa-ketiwi tanpa sebab, yang akan menyebut-nyebut nama lelaki mereka… Namun Julia sangat berbeda… yang dia inginkan bukan hanya cinta saja… Julia juga menginginkan raga yang saling menyatu padu…
Dalam isak tangisnya Julia tersenyum… hingga pada akhirnya dia mengerang senang… dia telah mendapatkan orgasmenya… Julia puas. Walau bercinta tanpa lelakinya… walau bercinta hanya dengan bantal… walau dia hanya masturbasi saja… dan baginya itu tak mengapa.
Dua malam kemudian Julia berjumpa dengan lelakinya. Bukan pertemuan yang tak disengaja… sebab Julia memang sengaja ke tempat kerja lelakinya sambil berpura-pura hendak menyewa film. Dan pada akhirnya percakapan pun dimulai. Julia dan lelakinya tengah berbasa-basi mengenai film box office. Beberapa menit kemudia mereka berbicara tentang kuliah. Lalu malam pun terlalu larut hingga dengan terpaksa lelakinya menawarinya pulang bersama. Julia sangat bahagia… tak-tiknya berhasil pada langkah pertama.
Langkah keduanya sedang dipertimbangkan… sebab Julia takut lelakinya akan menolak dan menganggapnya sebagai perempuan gampang. Padahal bukan begitu… Julia hanya mau bercinta dengan lelaki yang dicintainya saja. Julia masih perawan walau hampir tiap malam dia masturbasi. Pikiran Julia melayang jauh pada kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Baru kali ini Julia jatuh cinta. Julia jatuh cinta pertama kali di usianya yang ke duapuluh dua. Lalu kemana saja hatinya selama ini?
Kegagalan pada langkah kedua pun terjadi… Julia tak berani. Bukan karena dia perempuan lalu dia takut memulai. Namun karena dia benar-benar cinta pada lelakinya dan takut kehilangan kesempatan untuk kedekatan yang lain. Lalu kembali seperti sedia kala… seperti malam-malam biasanya… Julia bercinta dengan bantal… seorang diri di kamar kostnya. Dia hanya masturbasi saja.
Kawan-kawannya selalu bilang kalau Julia gila. Bukan gila yang sebenarnya, namun gila dalam artian yang biasa dicandakan oleh anak-anak muda pada umumnya. Mereka bilang Julia gila karena Julia terlalu mengagumi lelakinya… mengagumi tubuh gagahnya… mengagumi wajah maskulinnya… mengagumi cara berjalannya… mengagumi cara bicaranya… mengagumi segalanya yang dimiliki lelakinya… dan sayangnya lelakinya tak pernah tahu dan tak pernah menyadarinya. Sebab bagi lelakinya Julia hanya teman biasa. Teman kampus saja. Teman kampus yang pernah mengirimi email tentang solidaritas remaja kampusnya. Tak lebih dari itu.
Lelakinya tak pernah tahu apa yang biasa Julia pikirkan… apa yang biasa Julia harapkan… Apa yang biasa Julia khayalkan ketika sedang masturbasi di kamar kostnya… bahkan tentang masturbasi pun lelakinya tak pernah akan menyangka. Sebab hanya Julia yang tahu… hanya Julia, bantalnya, dan dinding putih kamar kostnya saja yang tahu…Tak mengapa bagi Julia sebab dia hanya masturbasi saja…
Lalu kembali seperti sedia kala… seperti malam-malam biasanya… Julia bercinta dengan bantal… seorang diri di kamar kostnya. Dia hanya masturbasi saja… dan baginya itu tak mengapa.
(Jogja, 17 Oktober 2005)
Bersetubuh Dengan sang Malam
Elena sedang bermuram durja di bawah langit malam yang kelam… dia tak bersemangat, bahkan untuk bangkit dari duduknya, atau untuk menggaruk kulitnya yang sejak semula dia duduk, nyamuk-nyamuk nakal berpesta menghisap darahnya. dia terlalu sedih untuk beranjak. dia bahkan terlalu lelah untuk menyentil abu rokoknya. Elena sedang sedih sekali. karena pacarnya meninggalkannya demi seorang gadis yang bahkan tak diketahiu namanya.
Di tempat yang lain, Rian… pacar Elena sedang mengagumi sesosok wanita yang selalu duduk di taman dekat rumahnya. wanita itu terlihat begitu indah. siluet tubuhnya seolah menyatu dengan gelapnya malam itu. dia sudah merasakan debaran dalam dadanya sejak pertama kali melihat siluet itu. dia benar-benar jatuh cinta pada sosok itu. bahkan deminya dia rela meninggalkan Elena yang sebenarnya masih dicintainya. namun Rian tak ingin mengkhianati Elena. dia enggan menodai cinta yang telah lama mereka jalin itu. maka keputusan yang berat bagi keduanya pun harus dia ambil.
Elena masih sangat sedih…sampai sampai ia menangis…dan menangis. ia ingin melupakan Rian dengan segera…tapi tentunya itu sangat tidak mungkin. lalu ia pun ingin menghilang dan bersetubuh dengan sang malam yang mulai menyelimutinya. ia merasakan sentuhan sang malam…lalu belaian lembutnya dan kemudian tak terelakkan lagi baginya untuk merasakan gairah pada hormon kewanitaannya. dia terangsang pada sang malam.
Rian sangat iri pada apa yang dikagumi wanita itu. sebab dengan jelas ia memperhatikan bahwa wanita itu sedang asyik dengan suasana yang hanya dimilikinya itu. walau pun Rian tak pernah melihatnya dengan jelas…namun Rian tahu bahwa wanita itu sangat cantik dan mulia. Andai dia bisa menjadi malam… tentunya mudah bagi Rian untuk mengamati dan mengagumi wanita itu dari dekat.
Elena memutuskan untuk meninggalkan semuanya. ia sangat ingin bersetubuh dengan sang malam. ia pun tahu…dengan bersebutuh maka ia akan segera melupakan Rian. ia akan dengan segera menemukan dirinya yang baru. ia akan memberikan segalanya pada sang malam demi sebuah kenikmatan yang indah. Ia terlalu terpana pada sang malam, bahkan mungkin Elena mulai merasakan cinta.
Rian mulai termenung…dia menggumamkan sesuatu…hampir tak terdengar namun lama kelamaan jelas terngiang.
bawa aku bersamamu…
jadikan aku dirimu…
satukan aku dengan sosokmu…
wahai malam kelam…
bawa aku bersamamu…
Perlahan-lahan Rian menghilang… menyatu dengan sang malam yang kelam. menghilang dan menghilang… lalu benar-benar lenyap, tak terlihat. dan yang tersisa hanya malam itu sendiri atau Rian yang baru saja menjadi sang malam.
Elena makin merasakan gairahnya meninggi. Ia bernyanyi… mendesah… menjerit lemah… lalu bergumam-gumam..
malam… biarkan aku mencintaimu… biarkan aku bersetubuh denganmu…
malam…
malam…
malam…
malam…
malam…
malam…
Kemudian yang tampak hanya siluet wanita yang menyatu dengan sang malam. siluet yang memeluk sang malam. siluet yang bersetubuh dengan sang malam… lalu semuanya menghilang bersama dengan sang fajar. entah menghilang atau bersembunyi dari sang fajar… hanya dua sosok yang sedang kasmaran itu yang tahu.
Jogja, 17 Oktober 2005
Cerita Busuk Tentang Si Busuk
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, mari dengarkan saya bercerita. Ini kisah tentang manusia gila. Yang hidupnya penuh dengan nista.
Percayalah wahai semua. Saya tak ada mengada-ada. Segalanya nyata saya berkata. Bahwa Si Busuk telah menebar petaka.
Miskinnya negeri kita. Membuat anak-anak tak tumbuh dengan ceria. Hanya terbaring lemah tanpa daya. Dengan perut membuncit dan mulut menganga. Tubuhnya kering berbalut kulit hitam kusam penuh noda.
Ooh..ya..ya..ini ulah Si Busuk gila. Membabi buta mencuri harta negara. Membiarkan orang-orang kehilangan nyawa. Hanya karena makan pun tak kuasa.
Ooh..ya..ya..ini ulah Si Busuk gila. Yang bebas memporak-poranda seisi negeri kita. Berkeliaran dengan busana emasnya. Di antara manusia-manusia tak bernyawa.
Tapi beginilah nyatanya. Si Busuk bisa berlaku apa saja. Karena dia punya kuasa. Dia dilindungi sang raja. Sungguh hina. Si Busuk dihalalkan melakukan segala dosa.
Kita hanya bisa berdoa. Semoga Si Busuk membusuk di neraka. Bersama para pelindungnya. Agar negara kita kembali jaya. Dan tak jatuh ke tangan yang sama.
??????.
Jogja, 31 Maret 2010
Paku
Wanita itu diam terpaku
Terpasung oleh paku
Berawal krn dia mengaku
Mengaku kebal oleh paku
Dan di sini dia membeku
Mati dg jidat terpaku.
Page 1 of 2